Perampok tersebut sudah sangat mashur kebengisannya jika merampok korbannya di wilayah tersebut, hingga suatu waktu dia diburu oleh tentara kompeni (Belanda), diburu terus tanpa ampun hingga ia melarikan diri sejauh mungkin sampai suatu tempat bernama Godebag
Di Godebag ini sang perampok bertemu dengan mama Kyai (Abah Sepuh) dan mengutarakan maksudnya untuk memohon perlindungan dari kejaran tentara Belanda, Abah Sepuh bersedia menolong sang perampok dengan syarat ia harus tobat dari segala perbuatan yang telah dilakukannya, serta mau berendan di kolam didepan Madrasah Abah Sepuh
Dengan berat hati sang perampok menyanggupi untuk berendam, namun sampai ditengah kolam tersebut, air kolam seolah-olah mendidih dengan hebat, sampai sang perampok menjerit-jerit minta tolong karena kepanasan, namum malah ditinggalkan oleh Abah Sepuh, ia berusaha untuk naik ke tepi kolam, namun selalu saja ketengah lagi, begitu terus selama tiga hari tiga malam berturut-turut, sampai di suatu pagi datanglah Abah Sepuh yang menyuruhnya naik ke tepi kolam, pada hari keempat tersebut bang Sainan naik ke darat dan mohon tobat dari segala apa yang pernah dilakukannya kepada Abah Sepuh dan Abah Sepuh memberinya pakaian yang layak dan segera disuruh untuk mandi dan berwudlu untuk keperluan Ibadah dan talqin dzikir
Setelah bertobat dan talqin daari Abah Sepuh Bang Sainan pun kembali ke Bogor serta selamat dari kejaran tentara kompeni yang mencarinya, hingga akhir hayatnya Bang Sainan tinggal di gang Rante Gunung Batu Bogor. Kisah ini kira-kita terjadi tahun 1930 s/d 1940-an
Riwayat lainnya setelah kisah diatas adalah kegiatan keikhwanan di daerah Panaragan Kidul yang dimulai pada kisaran tahun 1940-an di tempat tinggal orang tua bapak H Gardjita Garwita, di daerah Panaragan Kidul inilah yang dapat diketahui awal mula kegiatan amaliyah Manaqib dan Khataman yang dirintis oleh pembina KH Aang Muhaeminul Azziz dan Aki Fakih yang keduanya merupakan wakil talqin Abah Sepuh
KH Aang Muhaeminul Aziz |
KH Aang Muhaeminul Azziz adalah salah seorang pembina dengan banyak keahlian, di Panaragan Kidul sebelum memulai acara khataman, beliau terlebih dahulu menggelar acara "ngigel" atau bermain pencak silat (Maen Pok) untuk menarik simpati warga Panaragan Kidul agar tertarik untuk menjadi ikhwan serta menunjukkan bahwa beliau adalah salah seorang yang ahli dalam bela diri tanpa pilih tanding kepada para "jagoan" di Panaragan Kidul yang ketika itu terkenal sebagai daerah yang cuikup rawan
Buya Jamhur |
Selain strory telling tadi pada zaman tersebut masih lazim dakwah dengan mempertontokan keakhlian spiritual yang bersangkutan, hingga sampai pada akhirnya dilarang oleh Abah Anom
KH Abdul Salam Nssution SH |
Beliaulah yang memulai kembali aktivitas memakmurkan Masjid Baitul Ikhlas setelah renovasi tahun 2001, dan membina di Baitul Ikhlas hingga tahun 2003, beliau banyak membuat Diktat dan guidance bagi Mubaligh dan ikhwan baik di Bogor maupun tempat binaan lainnya, beliau dikenal sangat tegas akan masalah prinsip-prinsip kesuryalayaan, sebagaimana para pembina sebelumnya, KH Abdul Salam Nasution SH tercatat dalam sejarah keihkwanan Bogor sebagai Mubaligh yang banyak jasanya bagi para pengurus YSB Perwakilan Bogor terutama para ikhwan/akhwat di wilayah Bogor
KH Abdul Salam Nasution SH (alm), KH Aang Muhaiminul Azziz (alm) & Letkol (purn) H Sumarya Soekrawinata (alm) |
KH Abdul Salam Nasution & KH Aang Muhaiminul Azziz di Masjid Baitul Ikhlas |
H Anta Surya (kedua dari kanan), salah satu periwayat beserta pengurus YSB PPS Perwakilan Bogor |